Wisma Atlet, Saya Pamit!

Setiap yang hilang pasti akan ketemu, setelah lapar ada kenyang, pun setelah sakit ada kesembuhan. Mungkin kutipan kalimat tersebut yang menjadi dasar pemikiran saya selama menghadapi virus Corona yang masuk ke dalam tubuh. Sedikit berbagi cerita mengenai pengalaman yang saya alami selama kurang lebih 26 hari menjalani isolasi.

Kronologi Timbul Gejala sampai dengan Dinyatakan Positif

Rabu (26/8) siang azan tanda datangnya sholat zuhur tiba. Seperti biasa, menyemprotkan minyak wangi ke pakaian ketika hendak ke masjid menjadi aktivitas rutin sebelum menuju Masjid. Tapi ada yang beda hari itu, wangi semerbak yang biasa menyapa indra penciuman hilang dari kebiasaan.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Aktivitas rutin saya jalani dengan menghiraukan indra penciuman yang hilang. Jumat (28/8) pagi ada jadwal menjadi PIC Rapid Test dari kantor tempat saya bekerja. Di akhir kegiatan, seluruh PIC juga kebagian di Rapid, non reaktif adalah hasil yang saya dapatkan. Semakin abai saja dengan gejala yang saya alami.

Mencari tahu di Google dan saling berbagi cerita ke teman menjadi hal yang saya lakukan dari Jumat siang hingga Sabtu (29/8) sembari menjalankan aktivitas lainnya. Sabtu sore, saya memutuskan untuk mengurung diri di kamar, menjaga diri dari interaksi dengan keluarga setelah tahu bahwa salah satu gejala dari Covid-19 adalah hilangnya indra penciuman.

Bercerita, berkonsultasi dengan pihak kantor dan pada akhirnya saya menjalani Swab Test pada hari Minggu (30/8) di Rumah Sakit Pertamina Jaya. Saya ingat betul kedua lubang hidung dan mulut saya dimasuki alat seperti Cotton Bud. Hasil dari Swab Test baru akan keluar 24 jam kemudian atau keesokan harinya.

Notifikasi tanda pesan WhatsApp masuk, bentuknya file PDF yang berisikan hasil Swab Test yang saya jalani hari minggu kemarin. Terdeteksi, kata yang saya baca pada variabel hasil, menandakan bahwa saya dinyatakan positif Covid-19. Sedih, seolah tak percaya hinggap di pikiran, kemudian memberitahukan keluarga, saudara dan teman yang memiliki kontak erat dengan saya untuk berjaga.

Keluarga yang kebetulan satu rumah dengan saya hanya kedua orang tua langsung melakukan Swab Test tidak lama berselang dari keluarnya hasil Swab Test saya pada Senin (31/08) siang. Seiring berjalannya waktu, berita mengenai kondisi saya pun banyak tersebar. Doa dan dukungan silih berganti masuk melalui pesan WhatsApp. Setelah kedua orang tua melakukan Swab Test, kami terus berdiskusi melalui telepon atau WhatsApp  mengenai langkah apa yang akan saya ambil selanjutnya sembari menunggu hasil Swab Test orang tua. Mengisolasi mandiri di rumah menjadi keputusan yang kami ambil pada hari itu.

Keesokan harinya, Selasa (1/9) hasil Swab Test orang tua keluar, Alhamdulillah negatif. Saya dan orang tua senang mendengar kabar itu. Dengan kondisi orang tua yang negatif, membuat saya khawatir takut menjadi Carier untuk mereka, dan orang tua juga memiliki kekhawatiran mengenai bagaimana cara merawat saya selama menghadapi virus ini.

Wisma Atlet, Saya Datang..

Atas dasar kekhawatiran itulah akhirnya saya, keluarga, dan pihak kantor sepakat untuk melanjutkan perawatan di Wisma Atlet. Sempat terkendala masalah administrasi yang mengharuskan setiap masyarakat yang dinyatakan positif harus dirujuk ke fasilitas kesehatan sesuai dengan domisili, tapi pada akhirnya sayapun berhasil dirujuk menuju Wisma Atlet dengan menggunakan Surat Rujukan yang berasal dari Rumah Sakit tempat saya melakukan Swab Test yaitu Pertamina Jaya dan juga Surat Keterangan yang menyatakan bahwa saya ingin dirujuk secara mandiri ke RSDC Wisma Atlet oleh Puskesmas Kelurahan tempat saya tinggal.

Kaget, ketika pertama kali tiba di Wisma Atlet banyak pasien Covid-19 yang merasa seolah tanpa beban di pikirannya. Banyak anak-anak berlarian kesana kemari, pasien yang lain pun seolah memancarkan wajah yang "biasa-biasa" saja. Dari situ saya mengerti, mengendalikan pikiran agar tetap berpikir positif bisa menjadi obat yang sangat luar biasa dalam melawan virus ini. Melihat lingkungan di Wisma Atlet -yang sepertinya memang di desain agar seluruh pasiennya merasa senang dan tidak bosan- membuat hati dan pikiran saya menjadi jauh lebih tenang selama berada disana.

Ruangan tempat isolasi saya selama di wisma atlet


Kalau ingin lebih tahu mengenai fasilitas Wisma Atlet, bisa lihat cuplikan Mata Najwa di link berikut Mengintip Isi Kamar Isolasi Wisma Atlet (Mata Najwa)

Aktivitas Sehari-hari di Wisma Atlet

Mungkin banyak dari Pembaca yang bertanya tentang hal ini, jujur selama disana memang kita dibiarkan bebas dalam artian bisa melakukan kegiatan apa saja asalkan tetap berada di lingkungan gedung tempat kita di isolasi dan tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Menarik memang dengan kalimat "tetap mematuhi protokol kesehatan", ya kendati kita adalah pasien-pasien yang dinyatakan positif tapi kita tetap menerapkan protokol 3M, karena kita semua sepakat bahwa bisa saja kita dinyatakan positif pada hari ketika kita melakukan Swab Test, tapi di hari setelahnya mungkin saja kita sudah negatif. Maka dari itu penting untuk selalu menerapkan protokol tersebut.

Mengenai Dokter visit, tidak ada. Mungkin karena saya termasuk kategori Orang Tanpa Gejala sampai dengan Gejala Ringan sehingga tidak ada Dokter yang datang memantau kondisi kita. Akan lain cerita jika mungkin ketika berada di kategori yang memiliki Gejala Sedang hingga Berat yang membutuhkan penanganan khusus. Kendati demikian, kita tetap diawasi oleh 2 sampai 3 orang perawat yang selalu siaga jika ada sesuatu hal terjadi. Pendistribusian obat dan makanan pun menggunakan mekanisme jemput bola, yang artinya seluruh pasien mengambil obat dan makanan di tempat yang sudah disediakan yaitu koridor depan ruang perawat.

Aktivitas saya selama berada disana mulai dari pagi hari, pukul 06.00 biasanya sarapan dan obat sudah tersedia. Dilanjut dengan snack pada pukul 08.00. 08.30 sampai dengan satu jam kedepan saya isi dengan berjemur dan melakukan olahraga ringan di rooftop gedung. Setelah itu kemudian mandi dan mencuci pakaian di waktu-waktu selanjutnya. Koridor depan ruang perawat sekitar kurang lebih pukul 12.00 sudah terlihat obat dan makan siang. Istirahat dan mengisi kegiatan dengan hobi saya lakukan selepas makan siang. Bercengkerama dengan pasien lain menjadi kegiatan sore hari di lantai 16 yang terdapat semacam balkon disitu. Kemudian mandi sore, dan pukul 17.45 makan malam dan obat pun sudah kembali tersedia. Tidak banyak kegiatan yang saya lakukan di malam hari, sehingga kurang lebih pukul 20.30 saya sudah bersiap untuk istirahat.

Terapi dan Obat-obatan yang di Konsumsi

Mengoleskan minyak wangi ke dada dan hidung menjadi ikhtiar yang saya lakukan untuk memulihkan indra penciuman. Disamping itu juga, membersihkan hidung dengan NaCl juga saya lakukan. Untuk lebih detailnya mengenai cara dan alat apa saja yang digunakan untuk membersihkan hidung bisa cek link berikut Tata Cara Cuci Hidung - dr. Rosa Putrie Anindya, Sp.THT-KL.

Sementara untuk obat-obatan yang saya konsumsi adalah yang berasal dari Wisma Atlet sendiri. Ada 5 jenis obat diantaranya ChloroquineOseltamivirBecom c, Becefort, dan satu lagi semacam obat anti kembung -saya tidak tahu nama obatnya-. 5 obat itulah yang saya konsumsi selama 2-3 hari pertama berada di Wisma Atlet. Pada hari-hari selanjutnya sampai dengan saya dinyatakan boleh pulang, saya hanya mengkonsumsi satu obat saja yaitu Becefort, mungkin karena dihari kedua setelah berada disana indra penciuman saya kembali normal sehingga hanya obat itu saja yang saya konsumsi.

Wisma Atlet, Saya Pamit!

17 hari kurang lebih saya menjalani isolasi di Wisma Atlet setelah melakukan Swab Test sebanyak 2 kali. Hasil Swab Test pertama saya disana memang hasilnya masih positif. Kendati demikian, pihak Wisma Atlet sebenarnya sudah memperbolehkan saya untuk pulang dan melanjutkan isolasi mandiri dirumah, itu dikarenakan CT Value -semacam sistem kekebalan tubuh- saya diatas 35 yang artinya virus itu tidak dapat berkembang lagi dan tidak berpotensi menularkan. Tapi setelah berdiskusi dengan keluarga dan pihak kantor sepakat bahwa saya tetap melanjutkan isolasi di Wisma Atlet sampai dengan hasilnya benar-benar negatif. Alhamdulillah pada Swab Test kedua saya hasilnya sudah negatif. Pada 17 September 2020 saya sudah diperbolehkan pulang dan akan tetap melanjutkan isolasi tambahan selama 7 hari dirumah setelah dinyatakan negatif.

Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Akan selalu ada kabar baik yang didapat setelah keadaan yang kurang baik. Mungkin kedua orang tua saya lah yang paling berbahagia mendengar berita pulangnya saya. Pasalnya, penantian selama 17 hari menunggu hadirnya kembali saya kerumah dalam keadaan sehat selalu menjadi doa dan angan-angan yang terwujud.

Berkemas dan mempersiapkan diri untuk kembali kerumah, pamitan kepada rekan satu ruangan, pasien lain dan perawat yang bertugas pada hari itu. Surat Lepas Rawat dan Hasil Lab pun sudah berada di tangan. Memesan taksi online dan kemudian berjalan perlahan meninggalkan kawasan. Dari kaca taksi online sembari mata melihat kearah gedung-gedung Wisma Atlet hati kecil berbisik, katanya "Wisma Atlet, Saya Pamit!"....

"Allah Swt tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" QS Al-Baqarah:286.

Doa untuk Kalian ...

Kedua orang tua, Keluarga, Saudara, Murobbi, Bapak/Ibu Manajemen dan Keluarga Besar Divisi Bangunan Gedung PT Wijaya Karya, Tetangga, Jamaah Masjid Darul Hijrah, Tim Jakarta Ambulance Service, Suster, Bruder, Dokter  dan seluruh Teman-teman. Terimakasih telah memberikan banyak dukungan dan doa kepada saya pribadi maupun keluarga, tak ada yang mampu kami lakukan untuk membalas kebaikan Bapak/Ibu semua selain hanya melalui perantara doa semoga Bapak/Ibu semua selalu diberikan kesehatan, dimudahkan rezekinya, dan selalu dalam lindungan Allah Swt. amiinnn





















Comments